Petani dan Pelaku Usaha Kopi Kabupaten Bandung Siap Bangun Korporasi


14 Feb 2020 14:10:11


“Dengan adanya korporasi menjadi kesempatan luar biasa untuk petani bisa maju dan sukses. Apalagi belum semua petani mempunyai kesempatan untuk ekspor,” ujar Dadan E Wijaya, petani kopi dari Cilengkong saat sosialisasi Korporasi Petani Kopi di Kabupaten Bandung, Kamis (13/2).

Bahkah menurut Dadan, fakta sudah menunjukkan bahwa Kabupaten Bandung merupakan produsen kopi specialty terbesar di Indonesia. Kopi yang ditanam petani di Kabupaten Bandung merupakan jenis arabika. Seperti diketahui kopi di Kabupaten Bandung sudah mendapatkan sertifikat Indikasi Geografis dari Kementerian Hukum dan HAM.

Sementera itu H. Aleh, petani kopi dari Marga Mulya mendukung upaya menyatukan keinginan petani dalam sebuh korporasi. Apalagi fasilitas prasarana dan sarana untuk membangun korporasi sudah ada di tingkat petani. “Tinggal satu step lagi yang belum yakni perlu adanya mesin colour sorting untuk biji kopi. Ini menjadi pekerjaan rumah bersama,” ujarnya.

Aleh juga mendukung upaya memindahkan ekspor kopi milik petani yang selama ini melalui Sumatera Utara ke Kabupaten Bandung. “Dengan kondisi yang sudah ada, sebenarnya tingga memoles sedikit saja. Gudang sudah ada, eksportir juga ada,” tegasnya.

Bahkan Asep Budi, Ketua Koperasi Petani Kopi Kertasari menegaskan mendukung 100 persen rencana membangun korporasi petani kopi di Kabupaten Bandung. Apalagi pasar kopi ke luar negeri terbuka lebar. “Sudah ada permintaan kopi dari Jerman, tapi kendala kami permodalan dan peralatan yang masih kurang,” ujarnya.

Kendala permodalan juga dikeluhkan Eti Sumiati, petani kopi dari Wanaja. “Kami sudah usaha kopi sejak 2013, siap berkorporasi, tapi memang harus ada modal. Tiap tahun sayamenjual 20 ton green bean untuk pasar lokal,” katanya.

Menanggapi persoalan permdoalan yang dikeluhkan petani kopi saat membangun korporasi, Kepala Badan Layanan Umum Pusat Pembiayaan Pembangunan Hutan (BLU Pusat P2H), Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), Agus Isnantio Rahman mengatakan, siap membantu petani dalam pembiayaan. Apalagi pengembangan korporasi petani kopi di kawasan hutan, khususnya aliras DAS Citarum menjadi salah satu bagian tugas institusinya.

“Selama ini kami menyiapkan dana bergulir untuk bisnis, bukan untuk hibah. Jadi yang disasar bisnisman, untuk petani bisa asalkan untuuk bisnis. Untuk skemanya, ada pinjaman bagi hasil dan syariah, tergantung daerahnya. Kalau untuk kopi bisa menggunakan skema pinjaman,” tuturnya.

Soal tarif layanan BLU menurut Agus, akan berbeda. Untuk badan usaha, BI rate plus 4% maksimal 10 persen. Untuk masyarakat, BI ratenya maksimal 8%, tapi saat ini berlaku 6,5%. Adapun lembaga perantara Bi ratenyamaksimal 4%. “BLU ini hadir untuk memperkuat permodalan petani,” katanya.

Untuk petani kopi sudah berjalan di 8 provinsi dengan nilai mencapai Rp 31,3 miliar (outstanding) dan Rp 71,8 miliar komitmen. Lokasinya diantaranya, Aceh, Sumut, Bengkulu, Sumsesl, Lampung, Jawa Barat dan Jawa Timur.

Ubah pola pikir petani

Sementara itu Kepala Bagian Perencanaan Wilayah, Biro Perencanaan, Kementerian Pertanian, Hermanto mengatakan, membangun korporasi adalah mengubah pola pikir petani yakni menjadikan petani sebagai pengusaha dan pebisnis. Karena itu organisasi petani tidak lagi sekedar dalam bentuk kelompok tani atau gabungan kelompok tani, tapi menjadi korporasi.

Jadi tujuan korporasi petani adalah membentuk dan mengembangkan entitas bisnis petani sebagai perushaan milik petani, modernisasi manajemen usaha pertanian, dan perubahan model usaha petani. Dalam korporasi itu, petani lah yang menentukan arah dan tujuan perusahaan.

“Petani nantinya menjadi pemegang saham utama dalam korporasi. Pengelolannya nanti orang profesional yang digaji, tapi bisa saja petani yang menjadi manajer dalam korporasi petani tersebut,” ujarnya.

Selain menjadikan petani lebih berpikir bisnis dalam usahanya, meningkatkan kapasitas produksi, mendorong ekspor kopi, serta meningkatkan kesejahteraan petani, menurut Hermanto, pengembangan korporasi petani kopi di Kabupaten Bandung juga dalam rangka mendukung konservasi lahan di wilayah DAS Citarum.

Pengembangan korporasi petani tersebut memanfaatkan inovasi teknologi yang dipadukan dengan manajemen kreatif dan modern pada luasan sekitar 11.029,55 ha. Kawasan kopi tersebut secara bertahap dan selektif diperluas dengan memanfaatkan lahan kritis di luar kawasan hutan yang luasannya mencapai 50.000 ha.

Hermanto megatakan, Kementerian Pertanian pada tahun 2020 telah mempersiapkan fasilitasi bantuan benih kopi siap tanam untuk dibagikan ke petani/kelompok tani sebanyak 400.000 batang (400 ha). Bantuan lainnya, pupuk organik 80 ton, 200 ekor kambing, pembangunan nursery semi modern, alat pengolahan kopi, demplot GAP kopi, serta pengawalan dan pendampingan petani

 

(Sumber : Julian; SInartani, 14/02/2020)



Komentar