Terinspirasi Sebuah Pandemi


22 Jun 2020 08:59:14


Kecintaan pada bidang pertanian mendorong Arief Sofyan (ASN di Biro Perencanaan - Kementan) membudidayakan pertanian dipekarangan rumah. Melalui pendekatan kemandirian pangan skala rumah tangga, disela sela kesibukan beliau sebagai ASN juga mengimplementasikan ilmunya untuk pertanian.  Kini, ASN Biro Perencanaan tersebut, telah mempunyai 10 - 20 Unit “budikdamber” salah satu solusi pangan masa depan yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat, terutama untuk kebutuhan protein dan sayur mayur.

Budikdamber merupakan singkatan dari budidaya ikan dalam ember. Budikdamber dikembangkan oleh Bapak Juli Nursandi, S.Pi, M.Si dari Politeknik negeri Lampung. Teknik ini merupakan teknik pengembangan dari aquaponik dimana ikan dan tanaman tumbuh dalam satu tempat. Solusi ini didapat untuk mengatasi masalah lahan dalam budidaya tanaman dan ikan.

Sistem budikdamber lebih efisien, tidak butuh tempat luas atau lahan tertentu, bahkan di teras rumah juga jadi, ungkap Arief sofyan. Kita bisa control kesehatan ikan & sayuran secara periodic, berangkat kerja kasih makan lele, pulang kerja dikasih lagi, menjadi hiburan tersendiri menurut dia.

Lebih lanjut beliau menerangkan bahwa metode prakteknya mengkombinasikan kangkung organik dan lele dalam akuaponiknya. Dalam sekali panen, Arief bisa mendapatkan 2 kilogram (kg) kangkung organik dan 10 Kg lele/per ember. “Sayur bisa panen tiap bulan, sementara lele empat sampai lima bulan sekali,” tuturnya.

Berdasarkan pengalaman beliau, hal terpenting adalah dalam menyiapkan bibit lele dan media tanam. Pemilihan bibit menjadi penting karena untuk budikdamber ini harus dipilih jenis lele yang minim memakan sesama (kanibal). Ada banyak pilihan jenis bibit lele dipasaran, tinggal pilih sesuai selera dan yang tahan terhadap penyakit, Teknik penggantian air dan kualitas air juga perlu mendapatkan perhatian serius, terangnya.

Kangkung akan terlihat tumbuh di hari ke-3. perhatikan bila ada kutu di daun kangkung, segera buang daun atau batang karena kangkung akan kriting dan mati. Penampakan air akan berubah menjadi warna hijau. Saat pemberian pakan, saat itu pula tanaman kangkung perlu dilakukan penyiraman. Baiknya diberikan saat pagi dan sore hari. Penyiraman kangkung menggunakan air yang berasal dari ember.Ganti air biasanya 10-14 hari sekali. Untuk penyedotan 5-8 liter, bisa lebih atau keseluruhan bila perlu, ganti dengan air bersih. Jika kangkung membesar maka dibutuhkan air lebih banyak, tambahkan air setinggi leher ember. Hal ini dilakukan agar air menyentuh akar kangkung. Pemanenan kangkung dan ikan lele dilakukan secara terpisah. Waktu panen tanaman kangkung pertama adalah 14-21 hari sejak tanam. Saat panen sisakan kembali bagian bawah atau tunas kangkung untuk pertumbuhan kembali. Panen ke-2 dan selanjutnya berjarak 10-14 hari sekali. Panen kangkung bisa bertahan 4 bulan. Untuk waktu panen ikan lele dapat dilakukan dalam 2 bulan, bila benih bagus dan pakan baik.

Sistem budikdamber ini bagi pemula menjadi sangat menarik , karena secara langsung mendapatkan manfaat ganda, dalam satu media ada 2 jenis komoditas yang dapat dipanen yaitu lele dan kangkung, jangan takut gagal yang penting berani mencoba, tegasnya. Persoalan hama penyakit beliau menyarankan untuk memberikan makanan sela yaitu daun papaya atau daun pace, ternyata ini bisa menjadi obat herbalnya lele.

Dari diskusi singkat beliau bersama rekan rekan ASN di Biro Perencanaan, saat ini hampir 30% ASN biro perencanaan mengembangkan “budikdamber”. Tentunya dengan harapan untuk mendorong bagi masyarakat agar bisa menghasilkan pangannya sendiri dengan sangat efektif dan efisien.

 



Komentar